Rabu, 08 Mei 2013

7 Fakta Unik Seputar Adolf Hitler




Mendengar nama Hitler, sebagian besar orang pastilah mengatakan bahwa dia adalah seorang diktaktor kejam dan berdarah dingin. Hanya itu? Ia telah menjadi sebuah simbol tentang kekejaman dan rasa intoleransi terdalam manusia. Ia juga menjadi semacam sejarah yang begitu kelam untuk diingat, bahkan oleh bangsanya sendiri.

Adolf Hitler
Sebenarnya banyak sekali sisi kehidupan Hitler yang menarik untuk dibahas. Berbagai pemikiran dan kemampuannya dalam memimpin serta mengendalikan masa tidak ia peroleh begitu saja. Ia telah banyak sekali makan asam garam kehidupan hingga membuat Hitler menjadi seperti apa yang kita kenal sekarang ini. mari kita bahas fakta-fakta unik seputar Adolf Hitler.
1. Hitler Berasal dari Austria
Hitler bukan berasal dari Jerman, ia lahir di Brunau am Inn Austria pada 20 April 1889. Kota tersebut memang terletak berdekatan sekali dengan Jerman, namun Hitler belum pernah menginjakan kakinya di negeri itu hingga ia tumbuh dewasa. Hitler malah menghabiskan masa remajanya di Wina, Ibukota Austria, mencoba memasuki akademi seni dan arsitektur di sana, menjadi pelukis dan beberapa hal lain. Kesadaran politiknya juga terpupuk di sana.
Hitler memang tidak berasal dari Jerman, namun bangsa Jerman dan Austria merupakan satu bangsa (Dapat diibaratkan dengan Indonesia dan Malaysia yang merupakan satu suku bangsa – Melayu). Itu sebabnya pada tahun 1938, Hitler meng-anex-sasi Austria tanpa perlawanan sedikitpun. Dalam sejarah, itu pertama kali dan terakhir kalinya Jerman-Austria menjadi sebuah negara yang bergabung secara politik, administrasi maupun kelembagaan.
Keinginan untuk mempersatukan seluruh bangsa Jerman menjadi cita-cita utamanya selama ia menjabat sebagai “Fuhrer”. Tujuan utamanya adalah menggabungkan Austria, Saar Land di Perancis timur, Sudentend Land di Cheko, Kota Danzig di Utara Polandia dan Memel di Lituania. Namun obsesinya menggabungkan seluruh rumah tanah air Jerman “Lebensraum” terlalu menggebu-gebu dan menemui banyak kegagalan.
2. Hitler Mempunyai Cita-Cita Menjadi Pelukis
Hitler pada masa remaja bukanlah seorang yang mempunyai ambisi di bidang politik, ia mempunyai kehidupan “nyentrik” dan lebih termotivasi kepada dunia seni. Ia menyukai sekali interior, teater dan terutama sekali seni lukis. Hitler bahkan menghasilkan beberapa lukisan selama masa mudanya dan mempunyai harapan kelak ia menjadi seorang seniman yang sukses. Akan tetapi, ia tidak terlalu berhasil dalam menjual lukisan hasil karyanya.
Secara kualitas, lukisan yang Hitler hasilkan tidaklah buruk. Jika saja ia mempunyai kesabaran dan tekat yang lebih kuat untuk menjadi seorang pelukis, mungkin dunia akan mempunyai sejarah yang berbeda seratus delapan puluh derajat daripada sekarang. Agak sedikit menggelikan jika membayangkan nama hitler bersanding dengan Gogh, Picasso dan nama-nama pelukis lainnya. Bukan sebagai seorang diktaktor yang namanya akan selalu tercetak di tinta merah pada lembaran sejarah.
Sayang sekali bakatnya dalam bidang seni tidak ia kembangkan ketika ia tumbuh dewasa. Akan cukup menyenangkan apabila kita dapat melihat seorang diktaktor di satu sisi dan seorang seniman di sisi lain. Adalah perpaduan yang unik melihat sebuah keganasan bersanding dengan keindahan. Karena selama ini, dua hal tersebut adalah dua kubu yang berlainan dan saling bertentangan.
3. Hitler Pernah Hidup Menggembel di Viena
Setelah Sang Ayah meninggal, Hitler muda lebih memilih untuk mencoba hidup di Wina, Ibukota Austria. Ia hidup dari warisan yang ditinggalkan oleh ayahnya. Warisan tersebut sebenarnya cukup banyak untuk seorang pemuda yang belum mempunyai tanggungan. Namun Hitler ternyata tidak mampu untuk hidup hemat. Ia menghabiskan warisannya hanya dalam beberapa bulan saja. Awalnya itu tidak menjadi masalah, ia hanya perlu pindah dari satu rumah sewa ke rumah sewa lain yang lebih murah.
Namun ketika seluruh warisannya telah habis, kini ia terpaksa hidup menggelandang. Lukisan yang ia buat juga tidak banyak membantu, karena ia tidak mempunyai nama dan riwayat sebagai seniman, maka tak ada seorangpun yang mau membeli lukisannya. Lukisannya gagal total! Ia benar-benar hidup dan tinggal di jalanan, mengemis dan mendapatkan makanan dari sukarelawan biara. Di saat-saat seperti itulah kebenciannya terhadap Yahudi semakin meluap-luap.
Ia berpikir bahwa nasibnya yang serba kekurangan, serta nasib banyak orang Austria lain yang hidup dalam depresi ekonomi tinggi adalah hasil dari ciptaan Kaum Yahudi. Secara kasat mata, memang Yahudi di Jerman dan Austria mampu hidup lebih makmur dari rata-rata rakyat pada umumnya. Hal tersebut membuat Hitler menjadi berang, ia mengganggap bahwa Bangsa Jerman (Jerman dan Austria) seharusnya menjadi tuan di negerinya sendiri.
Namun meskipun begitu, Wina tetaplah menjadi kota yang begitu menggagumkan bagi Hitler. Ia begitu terpesona dengan arsitektur, adat dan seni yang ada di setiap sudut kota itu. Dari sanalah, gagasan-gagasan tentang kebesaran Jerman di masa depan terbentuk.
4. Hitler Memperoleh Medali Iron Cross Selama Perang Dunia I Karena Kegigihannya
Selama masa remaja dan menggelandang, Hitler tidak mempunyai kemampuan sama sekali dalam apapun yang mempunyai sifat kedisiplinan. Ia lebih suka hidup bebas, layaknya seorang seniman. Ia begitu menggagumi seni lukis dan membuat beberapa lukisan yang tidak dapat dikatakan buruk. Namun semua itu berubah ketika ia bergabung dengan angkatan darat Jerman di tahun 1914.
Hitler sebelumnya telah pindah ke Munich pada tahun 1913 dan ketika Jerman menyatakan perang terhadap sekutu, ia berada di kota itu. Ia berada pada kerumunan manusia yang mendengarkan pengumuman perang resmi dari kerajaan Prussia (Jerman). Munich menjadi titik balik Hitler, ia kini tahu siapa dirinya dan untuk apa hidupnya. Ia ingin berjuang demi Jerman raya.
Jauh dari kebiasaannya ketika remaja yang pemalas dan tidak mempunyai kebiasaan tetap. Hitler di dalam dinas kemiliteran bersikap sangat disiplin. Ia menjadi orang yang rajin sekali dan kerap mendapat pujian dari atasannya. Ia dianugerahi Iron Cross first class karena keberanian dan sepak terjangnya. Iron Cross Kelas Pertama tersebut jarang diberikan kepada tentara sukarela seperti Hitler (Tentara yang bukan dari jalur akademi).
5. Hitler Pernah Dipenjara Karena Memberontak Kepada Negara
Terinspirasi dari gerakan Mussolini di Itali, Hitler berkeinginan untuk melancarkan gerakan kampanye ke Berlin, sebuah gerakan jalan masal yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan bentukan sekutu di Berlin. Gerakan tersebut dikenal sebagai “Beer Hall Putsch” atau “Munich Putsch”. Gerakan tersebut mendapat dukungan dari Erich Ludendorff, seorang jendral veteran dari Perang Dunia I yang sangat berpengaruh di dunia politik.
Gerakan “Beer Hall Pustch” awalnya berjalan dengan baik. Mereka berhasil mendapat dukungan dari politisi-politisi lokal yang beraliran nasionalis sayap kanan. Dinamakan “Beer Hall Putsch” karena gerakan ini diawali dari sebuah Beer Hall setempat, tempat penduduk lokal biasanya berkumpul dan membahas berbagai hal, termasuk politik. Gerakan ini juga berhasil menduduki beberapa pos kepolisian dan tentara. Namun tak ada polisi dan tentara yang bergabung dengan gerakan ini, kecuali beberapa gelintir saja. Hal itu yang membuat “Beer Hall Putsch” menemui kegagalan.
Hitler ditangkap setelah gagalnya “Beer Hall Putsch”, ia awalnya diberi tuntutan sangat keras karena dianggap makar terhadap negara. Namun, pidatonya yang memukau ketika dalam persidangan membuat hakim menjatuhkan hukuman yang lebih ringan yaitu 5 tahun penjara. Ia seharusnya dipenjara dari tahun 1924 hingga 1929, namun dalam praktiknya, ia hanya menjalani hukuman selama satu tahun karena mendapat berbagai keringanan. Di dalam penjara, Hitler menulis Meinkampf yang artinya Perjuanganku. Buku itu menjadi sumber inspirasi Parta NAZI dan Jerman selama pemerintahan Adolf Hitler kemudian hari.
6. Hitler Bukan Seorang Atheis Apalagi Komunis
Hitler bukanlah seorang Atheis, dalam berbagai kesempatan ia menyatakan dirinya adalah seorang Katolik, ia juga sering menyebut dirinya sebagai Kristen Positif yaitu sebuah aliran ke-Kristenan yang beraliran Aryan. Meskipun sering berganti istilah, tidak ada catatan yang menyatakan bahwa Hitler adalah seorang Atheis, bahkan ia sangat membenci Atheisme.
Selain itu, Hitler bukan seorang Komunis maupun Sosialisme. Sebutan Nasional Sosialisme atau Nazi bukanlah berarti bahwa ia beraliran sosialisme. Nasional Sosialisme merujuk pada fasisme, bukan Sosialisme.
7. Hitler Tidak Buta Strategi Militer
Anggapan bahwa Hilter adalah seorang maniak yang bodoh dan tidak mempunyai keahlian adalah salah besar. Hitler mempunyai banyak sekali pengetahuan, baik di bidang politik, geografis dan militer. Khusus dalam bidang militer, Hitler termasuk seorang yang luar biasa. Meskipun ia hanya berpangkat Kopral di dalam Perang Dunia I, namun pengetahuannya tentang strategi militer tidak dapat disamakan dengan pangkatnya itu. Sejak kecil, Hitler telah membaca berbagai majalah dan buku militer dari perpustakaan pribadi ayahnya. Pengetahuan dan minatnya di dalam militer terus berkembang dan mencapai puncaknya ketika ia bergabung dengan ketentaraan Jerman. Setelah perang, ia bahkan tergabung dalam sebuah satuan khusus semi politik yang berurusan dengan para pemberontak dan aliran komunis.
Ketika menjabat sebagai Fuhrer, Hitler secara pribadi merancang berbagai strategi dan pengembangan militer Jerman. Seorang Jendralnya yang sangat terkenal, Erich Von Maenstein, bahkan menyebut Hitler sebagai seorang yang mempunyai ketajaman visi militer yang cukup tajam. Ia dapat mengerti dengan cepat apa maksud dan tujuan yang diberikan Jendral-jendralnya ketika sedang mengadakan rapat. Ia bahkan mampu menyanggah dan memberikan solusi lain yang jauh di luar akal kebiasaan. Kemampuan semacam ini biasanya hanya dimiliki oleh seorang yang telah lama berkecimpung di dalam dunia militer atau lulusan akademi militer.
Hitler merancang secara khusus detail pelatihan hingga seragam pasukan SS. Pasukan SS atau Schultz Staffel awalnya merupakan pengawal pribadi dari petinggi Partai NAZI. Namun seiring perkembangan waktu, ia berubah menjadi unit para militer yang tangguh dan terlatih. Pasukan inilah yang merupakan “benar-benar” pasukan NAZI. Seluruh pelatihan, tanda pangkat, filosofi dan indoktrinasinya diciptakan Hitler sendiri.
Meskipun mempunyai kemampuan cukup memadahi di bidang militer, namun ia tidak jarang juga melakukan kesalahan dan miss kalkulasi. Beberapa kesalahannya seperti yang terjadi dalam insiden Dunkrik dan Bulge memang seharusnya tidak perlu terjadi. Beberapa keputusannya seperti Stalingrad juga menuai banyak kritik. Kesalahan seperti itu dilakukan lebih karena egonya yang luar biasa besar, sehingga mengakibatkan kerugian luar biasa bagi Jerman.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews